Monday, November 8, 2010

Anti Penerbit Lain = Rugi

Assalamu'alaikum,

Mungkin ada beberapa teman yang kenal saya sebagai pekerja di sebuah penerbitan. Ya, memang saya adalah pekerja buku, tapi jangan tanya berapa buku yang saya sudah tulis, ya? Karena belum ada satu pun buku yang saya lahirkan. Nah, meskipun saya terikat secara kekaryawanan di sebuah penerbitan, tetapi saya bukan orang yang anti pada penerbit lain. Baik itu anti untuk bekerja sama, mengonsumsi produknya, maupun membagi ide bersama mereka.

Oleh sebab itu, saya tidak pernah menolak orang mengiklankan, menawarkan, bahkan memberi gratis (hehehe... maunya) buku terbitan lain kepada saya. Mengapa? Karena setiap kepala tentu punya ide-ide yang berbeda, yang bisa jadi tidak muncul di kepala saya, atau di buku-buku yang mampir di penerbitan saya. Wah, alangkah ruginya kalau saya menyia-nyiakan ilmu-ilmu itu melintas begitu saja.

Sejak saya memiliki anak, saya pun mulai mengamati buku-buku anak. Awalnya, saya berkeinginan untuk menuliskan buku untuk anak saya sendiri. Saya pikir, bacaan yang kelak dibaca anak saya itu setidaknya aman. Maksudnya, tidak menyimpang dari pengetahuan dasar yang telah saya yakini, terutama dalam hal keagamaan. Mulailah saya menulis sendiri, menggambar sendiri, mengemas dengan kertas-kertas ala kadarnya--yang saya "pulungi" dari rekan-rekan percetakan--, dan saya jilid sendiri. Hasilnya? Mungkin buku gambar anak TK zaman sekarang akan lebih bagus daripada "hasil karya" saya itu.

Seiring berjalannya waktu, dengan mengambing hitamkan pekerjaan yang menumpuk dan menguapnya hobi menggambar saya, saya pun lupa dengan cita-cita saya untuk membuat buku-buku untuk putra saya itu. Ah, lagi pula umur buku-buku asalan itu juga tidak pernah lama, sekarang sudah seperti apa itu bentuknya. Lagi pula, banyak hal yang belum saya kuasai. Masak saya mau anak saya seperti saya, yang gagap di sejarah, ilmu alam, dan masih banyak lagi? Alasan-alasan itu yang membuat pupus harapan saya untuk menulis buku untuk anak saya sendiri.

Oleh sebab itu, saya pun berburu buku. Buku-buku dari penerbit tempat sekarang saya bekerja maupun tempat kerja saya yang lama memang banyak. Tentunya saya punya jatah nomor lepas karena saya turut membantu di dapurnya. Tapi, saya masih lapar, saya masih suka ngelirik-lirik penerbit sebelah. Maunya sih dapat gratisan jg, tapi mana bolehlah? Ya sudah, akhirnya saya menabung demi memperoleh harta-harta tak ternilai itu.

Nah, itulah mengapa saya tidak pernah menolak jika ada tawaran-tawaran dari penerbit lain. Ada yang mau menawarkan saya buku? Saya terima dengan senang hati, apa lagi kalau cuma-cuma. Ada yang mau menawarkan untuk bekerja sama? Hayuk, ini kan dalam rangka memupuk amal jariah. Senangnya kalau bisa berbagi.

Wassalam.

Thursday, October 7, 2010

Menu Si Toddler dan Kreativitas Ibunya

Assalamu'alaikum,

Sejak Azzam berusia satu tahun, menu makan Azzam tdk seperti waktu MPASI dulu. Menunya lebih mirip table food, maksudnya sesuai dengan menu makanan orang-orang yang ada di rumah. Em... sebenarnya bisa jadi juga kalau justru menu kita (orang-orang yang di rumah) yang menyesuaikan menu Azzam. Coba saja simak nih menu kami sehari-hari.

Sarapan pagi kami cukup dengan buah, bisa melon (hijau atau oranye), semangka, jeruk, pepaya, pisang, atau sesuai stok buah yang ada di rumah. Enggak dibikin jus, dipotong-potong saja atau dimakan langsung. Praktis, gak perlu blender. Sekitar setengah jam kemudian, baru deh Azzam makan oatmeal, itu pun saya campur buah lagi atau diberi 1 sdt sari kurma.

Menu makan siang dan makan sore biasanya sama. Selama sepekan menunya gak jauh-jauh dari sayur bening dan sop. Jadi, sepekan itu menu sayuran kami ya bening bayam, bening kangkung, bening oyong, sop ayam, sop ikan, dan yang mewahan (dikit) soto ayam. Lauknya berkisar di tempe, tahu, telur, ikan, dan ayam. Jaraaaaaang banget makan daging (di tukang sayur lebih sering adanya tetelan euy).

Menunya simpel, praktis, dan ekonomis, deh. Belanja dapur kalau dihitung-hitung per harinya sekitar 10 ribu--15 ribu. Nah, yang menyenangkan lagi adalah karena Azzam lahap aja makannya. Alhamdulillah, sudah terbentuk seleranya. Ibu-ibu di dunia pastinya paling seneng deh kalau anaknya makan dengan lahap. Kalau masalah jajan, Azzam paling-paling jajan roti tawar (biasanya beli sari roti) dan buah. Donat, cake, kue-kue lebaran macam nastar, sagu keju atau yang manis-manis, sukses dilepeh. Gak doyan ternyata.

Tapi..., karena simpel dan mudahnya menu makan si toddler ini, emaknya jadi kurang kreatif. Apalagi didukung dengan suami yang juga enggak pemilih makanan, belum lagi saya juga orang yang pemalas . Resep mah hayuk dicatet, praktiknya mah nunggu saya disamber hidayah. Kalau lagi rajin bisa bikin menu-menu yang berbeda tiap sesi makan plus ada camilan buatan sendiri. Biasanya camilan Azzam gak jauh-jauh dari buah potong (lagi!) dan sayur kukus. Nah, kalau saya lagi rajin bisa jadi ada getuk, pudding, pancake, bolu kukus, dan kastangels. Tuh, kan... padahal tuh camilan gak pake ribet juga kan ya bikinnya.

Jadi, bukan karena selera si toddler yang bikin kreativitas ibunya mandek. Itu mah alasan aja. Sebenarnya mah lebih karena MALAS.

Wassalam,

*ditulis buat nyambit diri biar lebih rajin berkreasi di dapur*

Tuesday, September 21, 2010

[In Memoriam] Tetangga Kubikel Saya, Pak Mula Harahap

Kamis, 16 September 2010. Dunia perbukuan Indonesia kehilangan seorang penggiatnya yang amat semangat dan unik. Pak Mula Harahap. Dan, beruntungnya saya sempat belajar dengan beliau.

Setelah cuti melahirkan akhir tahun lalu, saya baru bertemu beliau. Kami satu ruangan. Ruangan yang ada di ujung lantai satu bangunan Montong 57 ini memang dihuni oleh dua redaksi, Tangga Pustaka dan Qultum Media. Jangan bayangkan isinya pasti hiruk-pikuk karena ada dua redaksi dengan jumlah lebih dari sepuluh orang di sana. Tidak, kami hanya berenam di ruangan ini. Tiga orang redaksi Tangga (satu editor, satu redpel, dan Pak Mula sebagai direktur) dan tiga orang redaksi Qultum (dua editor, satu pimred).

Kiprahnya di dunia perbukuan tidaklah kecil. Tapi, begitu banyaknya ilmu dan pengalamannya yang malang melintang itu, dia tidak pernah terkesan kaku atau sulit dijangkau kami, maksudnya saya yang masih amat "muda" dalam hal perbukuan ini, dan yang sering kikuk kalau berhadapan dengan orang-orang besar. Kesan itu tidak ada sama sekali. Beliau bisa membaur dengan kami-kami, yang amat jauh junior di bawahnya.

Celetukan-celetukan ringannya menyegarkan dan berisi. Lucu, tapi berbobot. Bukan seperti candaan yang kosong melompong tanpa hikmah. Selain itu, beliau tidak pernah segan atau malu bertanya kepada yang muda tentang hal-hal kecil sekalipun.

Masih segar di memori saya, H-1 kepulangannya, beliau sedang semangat menulis. Entah apa yang sedang beliau kerjakan. Saya pun saat itu sudah sibuk dengan deadline pekerjaan saya padahal kantor masih sepi karena belum banyak yang masuk setelah libur lebaran. Di ruangan  itu, hanya ada saya dan beliau. Pak Haji (pimred saya) sedang keluar ruangan dan Tina (editor Tangga) belum datang. Beliau bertanya, "Ian, kalau gelas yang ada pegangannya itu biasanya disebut apa, ya? Kalau saya sebut cangkir bisa tidak? Tapi ini lebih tinggi dari cangkir." Saya menjawab, "Yang biasa dipakai sih mug, Pak." "Oh, iya. Kalau bahasa Inggrisnya kan mug. Jadi, saya bisa pakai kata itu, ya?" "Iya, Pak. Itu sudah biasa dipakai, kok."

Saya tak menyangka, percakapan tentang mug itu adalah percakapan terakhir antara saya dan beliau. Percakapan itu terjadi sebelum zuhur. Ketika siang hari setelah shalat zuhur, saya sudah tidak melihat beliau di kubikelnya. Ternyata beliau sudah pulang duluan karena tidak enak badan kata Tina. Padahal, saat jam makan siang, hujan deras sekali. Kami, para karyawan yang sudah masuk sibuk memesan jasa pengiriman makanan siap saji lewat telepon. Sementara itu, Pak Mula meminta biskuit yang ada di meja Tina. Biskuit yang jadi jatah parcel Tina dari kantor.

"Tina, saya boleh minta biskuit itu? Besok saya ganti. Hujan lebat, saya jadi malas cari makan."

Oh ya, Pak Mula Harahap adalah seorang atasan yang sangat tidak ingin merepotkan orang lain, bahkan bawahan atau OB sekalipun. Pernah suatu hari, saya melihat beliau mencuci sendiri piring bekas makan siangnya, dan itu adalah piring kantin. Piring yang biasa kita tinggalkan di tempat cuci piring atau bahkan teronggok di meja kantin, yang kemudian ibu kantin ambil dan mencucinya.

Pak Mula, mungkin saya bukanlah orang yang sering duduk-duduk dan berlama-lama berbincang dengan Bapak. Terus terang, saya tidak kuat dengan asap rokok yang Bapak kebulkan. Tapi, saya sangat salut karena Bapak ringan hati untuk merokok di luar ruangan dan pernah beberapa waktu berusaha berhenti mengisap rokok. Saya juga termasuk orang yang tidak mengikuti update status facebook Bapak karena saya belum jadi kontak Bapak, tapi saya toh dengar langsung dari mulut Bapak di ujung kubikel sana apa yang ingin Bapak suarakan di facebook. Saya jadi belajar tentang santun bahasa, tentang editor yang sebenarnya, dan tentang dunia indah bernama perbukuan dari seorang Bapak bersahaja seperti Anda. Betapa bahasa tulis dan lisan Bapak amat sederhana, tidak bertele-tele, dan tidak ada yang berbeda. Ketika saya membaca tulisan Bapak, itulah bahasa yang Bapak pakai ketika bercakap-cakap langsung.

Selamat jalan, Pak Mula. Terima kasih atas segala ilmu yang sempat engkau bagikan kepada saya. Semoga engkau mendapat tempat terbaik di sana.


photo saya unduh dari album facebooknya.

Thursday, June 24, 2010

Assalamu'alaikum

Alhmadulillah, sudah setahun . Bukan usia Azzam, putra kami, yang mencapai setahun. Insya Allah 2 bulan satu minggu lagi usianya baru genap setahun. Kali ini adalah cerita setahun rumah (pinjaman) kami. Sebuah kontrakan mungil di pinggir Jakarta, nyaris disenggol kota Depok.

Tidak terasa, rumah yang dipinjami bapak dan ibu ramah, yang tinggal di sebelah, sudah harus kami bayar lagi biaya kontraknya. Meski baru setahun, sudah banyak cerita terukir di rumah berpagar hijau itu. Ada cerita duka, tapi lebih banyak suka citanya. Alhamdulillah.

Saya masih ingat, setahun lalu saya yang dengan perut membuncit dan suami bolak-balik mengangkut barang-barang yang tak seberapa banyaknya dari mobil papa (mertua) ke dalam rumah. Masih segar di ingatan saya, waktu itu kami hanya punya kasur usang yang dipindahkan dari kamar suami ke kamar kami dan sebuah lemari kayu jati kuno peninggalan nenek dari suami. Saya juga masih mengenang betapa saya hanya menumpuk perabotan masak-makan-minum kami di sebuah meja kayu kecil buatan bapak. Lebih dari itu, tak luput pula dari ingatan saya tentang sepinya rumah yang waktu itu hanya ditinggali oleh saya dan suami. Yang paling saya ingat juga adalah ketika saya mulai mulas-mulas kontraksi karena dorongan si jabang bayi ya di rumah mungil itu.

Sekarang... Alhamdulillah, rumah itu mulai ramai. Bukan saja ramai dari celotehan bayi sembilan bulan lebih sekian yang mulai tak bisa diam tangan, kaki, dan mulutnya, tetapi juga ada suara-suara anak-anak tetangga yang ikut bermain bersama. Rumah itu juga tidak selowong setahun lalu. Meski ruang tamu kami masih kosong melompong tanpa ada perabot apa pun, setidaknya kamar utama sudah punya kasur, dapur sudah ada rak piring dan kompor beli sendiri (sebelumnya dipinjami ibu ), dan lemari pendingin penyimpan ASI dan bahan makanan kami.

Tetangga-tetangga masih bilang rumah kami sepi. Ya, karena aktivitas kami masih banyak di luar rumah. Saya dan suami masih bekerja sejak pagi sampai maghrib. Mungkin juga karena kami tidak memiliki si kotak ajaib yang sebenarnya bukan barang mewah lagi pada masa sekarang ini. Kami memang sengaja tidak membelinya. Kami pikir urgensi benda itu belum sampai kategori dibutuhkan. Kami cukupkan hiburan di rumah ini adalah permata hati kami. Bermain dengannya, membaca Al-Qur`an bersama, membaca cerita, bernyanyi-nyanyi, sampai bergotong royong membersihkan rumah. Sungguh hiburan yang tak ada tandingannya.

Bagi kami, tidak mengapa dibilang pelit-kuno-kolot-nggak jamani. Kami tetap up date berita-berita melalui media lain (internet dan koran--difasilitasi oleh kantor ). Justru kami jadi bisa membatasi berita apa saja yang kami inginkan untuk kami konsumsi lebih, dan berita apa saja yang cukup diketahui selentingan. Berita-berita media kini makin gempar saja, heboh, dan kami pikir dampaknya itu akan lebih dahsyat lagi.

Syukurlah, si kecil sudah terbiasa dengan hidup seperti ini. Ketika sesekali kami berkunjung ke rumah mbah atau gedeh yang pastinya ada si benda ajaib itu, ia justru lebih memilih memainkan benda-benda di sekitarnya. Meja, kursi, lemari. Semoga hal ini bermanfaat bagi perkembangannya kelak, dan semoga kami konsisten dengan penanaman nilai yang kami buat.

Setahun sudah....

Wednesday, March 31, 2010

MPASI 6 Bulan Si Azzam

Bismillahirrahmanirrahim

Sejak kelulusan S1 ASIX-nya, Azzam mulai menghadapi tantangan baru, yaitu dunia MPASI. Kepanjangan akronim ini adalah Makanan Pendamping ASI. Karena ini adalah PENDAMPING, tentu makanan utamanya tetap ASI. Fase ini juga jadi tantangan baru buat saya, bundanya. Karena sejak awal, saya menginginkan segala asupan yang akan diterima Azzam adalah racikan dari tangan saya. Uhuy… saya yang amat awam dan amatir dalam hal masak-memasak harus belajar banyak, harus lebih kreatif mengolah menu (sambil berdoa semoga Azzam seperti buyanya yang tidak pemilih dalam hal makanan). Oleh sebab itu, bergabunglah saya dengan milis MPASIRumahan dan Gizi_bayibalita sejak jauh-jauh hari.

Menu MPASI untuk 6 bulan ini saya mulai dengan puree buah. Saya agak berbeda dengan kebanyakan ibu peserta milis MPASI Rumahan yg memulai MPASI dgn serealia (tepung2an). Setelah saya cari2 info, saya meyakini kalo yg paling awal dikasih adalah makanan cair yg menyerupai ASI (mudah dicerna). Oleh sebab itu, saya putuskan MPASI awal Azzam adalah buah plus ASI.

Meskipun saya berbeda menu awal dengan sebagian besar peserta milis MPASI Rumahan, tapi saya tetap mengikuti PANCASILA MPASI Rumahan.
1.       MPASI dimulai usia 6 bulan
2.       MPASI dimasak sendiri (non instant)
3.       MPASI tidak ditambah gula garam (keduanya hanya memperberat kerja ginjal. Nutrisi dari gul-gar tetap bisa diperoleh dari ASI dan bahan alami makanannya)
4.       MPASI dibuat bertahap (encer dulu baru ditingkatkan kekentalannya)
5.       MPASI berasal dari bahan makanan alami

Nah, berikut ini daftar MPASI Azzam usia 6 bulan
1.       Alpukat + ASI (4 hari. 1x/hari), gak ada reaksi alergi, BAB lancar (setiap hari, tp BAB bayi yg dah mulai MPASI memang berbeda dgn bayi ASI)
2.       Pisang + ASI (3 hari. 1x/hari). Ini pisang yg ditanam abu azzam sewaktu masih bujang. Alhamdulillah, gak ada alergi, BAB lancar.
3.       Labu siam baby + ASI (3 hari. 1x/hari). Dikupas kulitnya, dipotong jadi dua trus digosok2 antar 2 potongan itu utk menghilangkan getahnya, trus dikukus, dihaluskan, tambahkan ASI kalo mau disuapin.
4.       Jambu biji merah +ASI (2 hari. 1x/hari). Hari ketiga diberhentikan krn ada bercak2 merah di muka. BAB jg terlalu lancer (3x/hari).
5.       Pear gak pake ASI karena dah cair (4 hari. 2x/hari). Awalnya dikukus dulu, tapi ternyata Azzam gak begitu suka, dilepeh2in. akhirnya diparut aja setelah dikupas kulit dan dibuang bagian tengahnya. Eh, suka dan gak ada alergi, BAB jg lancar.
6.       Melon gak pake ASI jg (4 hari. 2x/hari). Diambil bagian yg dagingnya aja, trus diparut.
7.       Gasol beras merah wangi + ASI (3 hari. 2x/hari). Gak ada alergi, BAB jg lancar.
8.       Gasol beras coklat + ASI (2 hari. 2x/hari) selingannya semangka. BAB terlampau sering dan encer. Diberhentikan (bubur beras dan semangkanya) pas hari ketiga.
9.       Puree kentang + ASI (3 hari. 2x/hari) dan selingan melon. Gak ada alergi dan pupnya juga lancar.



*gak punya kamera, jadi gak didokumentasikan satu per satu. Paling MPASI hari pertamanya aja (puree alpukat). Itu jg pake hp Buya :D

Kalau dari daftar menu di atas, Azzam sudah mulai kenalan dengan makanan karbohidrat kompleks pada minggu terakhir usia 6 bulannya. Dia juga dah mulai makan 2 kali sehari bersamaan dengan makanan karbohidrat kompleksnya. Selain itu, buah tetap dikonsumsi. Pengennya sih membiasakan Azzam makan buah pada pagi hari, tapi banyak yang menentang. Padahal bagus lho konsumsi jus buah pagi hari. Yah, tapi saya masih tetap usahakan dia makan buah tiap hari, yaitu pada waktu siang hari. Jadi, makan beratnya pas sarapan (jam 9 pagi) dan sore (jam  4 sore). Siangnya (jam 12) makan puree buah atau minum jus buah.Karena makanan Azzam pake cara dimasak sendiri, makanya perlu deh tuh perabotan masakan. Saya berusaha untuk menggunakan peralatan yang berbeda dengan perabotan masak yang biasa saya pakai untuk memasak makanan keluarga. Sejauh ini, yang paling sering dipakai adalah baby food maker. Ini daftarnya:

1.       Baby food maker pigeon (160 rb). Beli di Istana Baby sebrang Pasar Jaya Ciracas
2.       Panci stainless steel bergagang dan ada tutup kacanya (40 rb)
3.       Panci kukus stainless steel (45 rb)
4.       sodet kayu (3 rb)
5.       2 Mangkok stainless steel (@ 5 rb)
6.       Pisau stainless steel (5 rb)
7.       Talenan kayu (5 rb)

Point 2-7 belinya di pasar jaya cibubur. Belum sempat foto perabotannya.

Sedangkan untuk wadah makannya, Alhamdulillah ada kado feeding set pigeon lengkap. Jadi bunda-buya gak pake beliin feeding set lagi.

Oya, saya berusaha memasak sendiri MPASI untuk Azzam. Kalau puree buah, biasanya saya bikinnya dadakan. Makanya pas awal2 MPASI, saya selalu datang siang ke kantor, karena nyiapin makanan untuk Azzam dulu . Nah, pas makan karbohidrat kompleks, saya masaknya pagi sebelum ke kantor.  Kalau kata ndahe, bubur gasol bisa tahan sampai sore. Sementara selingannya (buahnya) saya potong2 dan parut pagi hari jg, sebelum berangkat kerja. Lalu, saya masukkan ke wadah Tupperware dan dimasukkan ke dalam kulkas. Kalau mau disuapin, tinggal keluarkan dari kulkas, tunggu sampai dinginnya hilang atau masukkan ke warmer (ini kado dari kakak ipar).

Alhamdulillah, sejauh ini saya masih bisa menyiapkan makanan untuk Azzam. Azzam juga makan dengan baik, meski kadang ada juga dilepeh2nya. Tapi memang saya tidak memaksakan dia untuk makan. Kalau sudah ditolak, ya gempur saja dengan ASI-nya. Awal MPASI-nya, Azzam sempat turun konsumsi ASIP-nya. Biasanya habis 6-7 botol @100/120 ml per hari, ini jadi 3 botol. Alhamdulillah, sekarang sudah normal, bisa habis 4 botol @120-130 ml per hari. Sama seperti Gaza, jagoannya ndahe, Azzam juga emoh makan kalau ada Bunda. Maunya nenen aja, bahkan kalau ASIPnya masih sisa dan Bunda dah pulang kerja, Azzam menolak dengan keras botol ASIPnya.

Azzamku, Bunda-Buya berusaha memberikan yang terbaik untukmu, Nak. Semoga Azzam semakin shalih, pintar, dan sehat selalu ya.

Friday, March 19, 2010

...

cuma ingin mengatakan,

"Terima kasih, ya Allah. Engkau telah mengirimkan pangeran yang tepat untukku. Terima kasih, ya Allah. Engkau telah anugerahkan kami jagoan kecil yang memeriahkan hati dan hari-hari kami."

Tuesday, March 2, 2010

Nadi Azzamil Iman, S.ASIX

Bismillahirahmanirrahim

Alhamdulillah, Ahad 28 Februari 2010, putra pertama kami lulus program sarjana ASIX (ASI Eksklusif selama 6 bulan). Rasanya senaaaaang sekali. Terlebih karena perjuangan selama 6 bulan itu lumayan bikin berdebar-debar.

Seperti telah saya ceritakan di sini, ASI untuk Azzam baru keluar pada hari ketiga. Alhamdulillah, selama 2 hari itu, Azzam mampu bertahan dgn cadangan makanan yg ada di tubuhnya. Saya dan keluarga pun tidak serta merta memberikan sufor, air putih, atau makanan lainnya. Sukses deh sosialisasi ASIX ke keluarga.

Nah, karena saya seorang ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah, saya pun akhirnya bergabung dgn para pejuang ASI. Mulailah stok ASIP sebulan sebelum masa cuti berakhir. Dua minggu sebelum masuk, Azzam pun mulai diajari minum ASIP.

Awalnya, susah jg tuh menghasilkan ASI peras dan gak gampang ngajarin minum ASIP dgn media selain dot. Namun, berkat dukungan the best breastfeeding father (terima kasih buya) dan semua pihak pendukung (ortu, mertua, dan ibu asuh azzam), semua bisa diatasi. Alhamdulillah.

Nah, ternyata saya pun mengalami tantangan para pejuang ASI itu. Dari mulai produksi menurun, stok ASIP menipis, kejar tayang, sampai dinas keluar, dll. Sempat atasan meminta saya untuk ikut ke Kairo. Seneng tentunya, tapi langsung dilema karena stok ASIP gak memungkinkan untuk ditinggal selama kalau saya ikut ke sana. Alhamdulillah, bos saya yg baik hati mengerti kondisi saya. Saya pun menolaknya. Tapi bukan berarti saya jadi lega. Karena ketika saya dilema itu, saya stress agaknya. Produksi ASI menurun, stok ASIP yg tadinya 38-40 botol tiba2 terkuras jadi 13 botol karena saya selalu defisit (ASIP yg saya peroleh hari itu tidak sebanyak ASIP yg dikonsumsi Azzam).

Segala upaya saya usahakan. Mulai dari makan sayuran hijau yg banyak, minum air putih yg banyak, habbatus sauda, sari kurma, bahkan selangu-langunya susu saya minum. Yup, saya minum susu kedelai setiap hari. Ternyata gak berpengaruh banyak. Akhirnya saya ikhlasin aja. Seberapa pun ASIP yg saya peroleh, selalu saya syukuri dan selalu saya katakan kepada diri saya, "Kamu hebat, ini banyak, lho!" (sambil menatap botol uc yg terisi separuh, bahkan pernah cuma 20 ml)

Alhamdulillah, support dari segala pihak terus mengalir. Saya pun semakin terpicu dan akhirnya produksi membaik, meski tidak jg dikatakan meningkat. Intinya, memang saya harus rileks, ikhlas dgn segala yg bisa saya usahakan.

Nah, tidaklah mengherankan kalau sekarang saya sedikit lega. Kenapa sedikit? Karena perjuangan sesungguhnya belum berakhir. Saya ingin tetap bisa memberikan ASI untuk Azzam sampai usianya 2 thn. Terbayang kan perjalanannya masih butuh waktu yg lumayan? Oleh sebab itu, mohon doa dan support dari teman2 semua, ya.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh