Friday, August 7, 2009

Menghitung Hari


Judulnya kayak lagunya KD, tapi ini gak pake dinyanyiin kayak dia ya. Maklum, suara saya bukan kelas penyanyi, paling2 sekelas tukang sayur yg teriak pagi2. hehehe.

Menghitung hari ini benar-benar sedang saya lakukan, maksudnya saya sedang menghitung hari jelang kelahiran. Yup, usia kandungan sudah masuk minggu 38. Semakin dag-dig-dug, semakin gendut, semakin berat, semakin susah tidur, semakin sering pegal-pegal.

Sejak 2 minggu akhir bulan lalu saya mengejar setoran kerjaan (membabat 4 naskah dalam 2 minggu itu berat, jendral!), dilanjutkan 2 minggu awal bulan ini memantau kerjaan setter, akhirnya sekarang agak sedikit bernapas lega. Kok, sedikit? Karena masih ada printilan kerjaan lain yg harus saya selesaikan segera. Memandatkan kerjaan sementara ditinggal cuti 3 bln ke calon pengganti, membuat laporan mid year, membuat program DKM kantor, dan yg paling penting... mengisi form cutiiiiiiii....

Semua orang kantor sudah banyak komentar. Mungkin karena melihat perkembangan perut saya yang makin membesar. Tapi saya kok ya belum bisa memutuskan tgl berapa tepatnya saya harus memulai cuti melahirkan. Saya merasa tanggung jawab saya belum terselesaikan, duedate saya juga masih tgl 26-an, dan saya pengennya ambil cuti dekat duedate biar bisa mengasuh baby 3 bln penuh. Bisa ngasih ASIX langsung dari pabriknya, bisa mengurusnya sendiri (biar dia merasakan bahwa bundanya tetap madrasah pertama baginya), dan masih banyak lagi keinginan saya dalam rangka cutinya saya dan become a new mother time itu.

Awalnya, saya baru akan mengambil cuti tgl 24, itu berarti 2 hari sebelum duedate. Tapi orang-orang kantor, terutama teman-teman yg sudah pernah melahirkan menganjurkan saya untuk mengambil seminggu lebih awal. Berdasarkan pengalaman mereka, ada saja hal2 yg mempercepat kelahiran mereka daripada prediksi HPL. Ada yang maju sepulang dari kantor langsung terjadi pembukaan, ada yg pernah pecah ketuban di hari terakhir ngantor, ada yg kelelahan ngantor akhirnya SC. Duuuuh, jadi serem jg.

Memang jam kantor kerja saya agak ajaib, dari jam 8.00-18.00. Itu belum ditambah jam berangkat kerja, shalat maghrib, dan lamanya perjalanan pulang kerja. Sepanjang hari kerja, biasanya saya menghabiskan waktu sekitar 13 jam di luar rumah. Berangkat jam 6 pagi dan sampai rumah jam 7-an malam. See? Betapa ajaibnya jam kerja saya. Maka wajarlah teman-teman kantor agak2 "keras" mengingatkan saya untuk segera ambil cuti.

Tapi, saya enggak enak hati. Ada beberapa tanggung jawab yg harus saya tunaikan dulu. Sambil terus berdoa semoga kehamilan saya tidak bermasalah, baik2 saja sampai tiba saatnya, sesuai yg diprediksikan, saya tetap berusaha menuntaskan tanggung jawab2 itu. Bukan berarti saya tidak sayang bayi yang ada dalam kandungan. Mengabaikan yg terbaik untuknya. Tapi sungguh saya juga ingin mendidiknya utk kelak menjadi orang yang bertanggung jawab atas amanah yg diberikan. Saya tdk mau membebani orang2 kelak dgn segala pekerjaan yg seharusnya saya tuntaskan.

Anakku sayang, bunda sayang kamu. Bunda mau waktu cuti 3 bulan itu nanti sungguh benar2 untukmu. Bunda juga ingin punya waktu untuk relaks, Nak. Tapi, selama kita di kantor, kita masih bisa santai, kan? Bunda tidak akan membuatmu tidak nyaman selama di dalam perut bunda, sayang. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk bunda dalam membantumu melihat dunia kelak ya, sayang. I love you, dear....

Tuesday, June 30, 2009

Pindahan, Lahiran, Belanjaan, Sekolahan


Bulan ini bener2 bulannya membobol tabungan :D

Rencana pindahan yg awalnya bakal keundur 3 bln lagi ternyata dimajukan. Jadilah bayar kontrakan tempat pindahan itu harus dilunaskan untuk satu tahun kedepan. Ehm... lumayan. Alhamdulillah bisa patungan dan ada simpanan.

Bulan ini juga bulan pengumuman lulusnya adikku dari bangku SLTP. Alhamdulillah, lulus dgn nilai yang lumayan. Tapi terus ortu kebingungan tentang dana masuk ke sekolah lanjutan yg nominalnya kok makin gak masuk akal. Untungnya aku memang sudah niatkan bantu pembiayaan pendidikan adikku semata wayang itu. Alhamdulillah, si Husni bisa lanjut sekolah. Belajar yg benar ya, Dek. Cari ridha-Nya agar rahman dan rahim-Nya menyertai kehidupanmu selalu.

Lagi-lagi, bulan ini harus ada pengeluaran. Ini sudah dianggarkan, karena sudah pasti rutinan. Kontrol ke dokter utk melihat kondisi perkembangan jundi. Alhamdulillah, lagi-lagi masih diberi rezeki. Bu dokter juga menyarankan ikut senam kehamilan. Aku memang blm ikutan, habisnya gak ketemu jadwal yg sesuai. Duh, alasan. Sebenarnya sih krn kepikiran utk bayar-bayar yg utama dulu. Hehehehe... Tapi insya Allah mulai bulan ke-8 ini ikutan senam. Demi jundi, kuberikan yg terbaik, deh.

Nah, namanya udah masuk bulan ke-8, otomatis mulai belanja kebutuhan newborn dong. Untungnya, udah pernah nyicil belanja dan ada peninggalan dari adik ipar yg baru lahiran lebaran kemarin. Nah, terkait masalah belanja, aku jadi pecicilan jg mau belanja perangkat ASIP nanti. Kalo botol2, insya Allah sih udah jauh hari mulungin bekas botol UC 1000 para karyawan kantor. Nah, yg belum kebeli tuh cooler bag, blue ice, botol2 susu, dsb. Blm kebeli krn harganya bikin mikir2 dulu. Nunggu THR aja kali yeee... :D

Tapi, yg paling urgent adalah nyiapin utk kelahiran jundi. Ya Allah, semoga Engkau meridhaiku utk berjuang melahirkan jundi dgn proses normal dan lancar. Kemarin sempat dengar tetangga yg jg temanku. Dia baru lahiran 2 minggu lalu, dan itu melalui proses operasi sesar. Jadi gimana gitu. Duh, optimis dong Ian. Be positive ya! Selain permasalahan itu, sbg calon ortu, tentunya aku dan org itu harus memenuhi hak anakku kelak, salah satunya menebusnya dgn aqiqah. Sejauh ini, memang sudah dianggarkan khusus utk itu. Jenis kelamin sudah dikasih tau dokter, tp memang kita sudah menyiapkan yg lebih utk itu. Nak, kami ingin memberikan yg terbaik untukmu.

Sungguh bulan ini bulan manis yg penuh ujian dan berita. Semoga aku bisa melaluinya dgn semangat, dgn jalan yg maslahat. Sabar dan syukur deh intinya, krn bersama kesulitan selalu ada kemudahan :)

Tuesday, June 16, 2009

Engkau Ajari Aku Mengeja Cinta

Hatiku sedang kebat-kebit belakangan ini. Entahlah, seperti ada rasa yang sulit aku gambarkan dalam kata-kata. Lembut menyapa, malu-malu munculnya, dan jika dilukiskan, bagai paduan warna ceria yang membentuk suatu harmoni nan indah. Duhai, apakah ini cinta?

Setiap hari selalu merindunya. Selang beberapa waktu saja tak bertemu rasanya menyiksa. Bersamanya rasanya semua susah hilang sudah. Ya Tuhan, hatiku sudah dibuat merona olehnya!

Dia, yang telah membuat waliku memberikan perwaliannya, akhirnya membuktikan janjinya. Dia yang bertekad membuatku jatuh cinta akhirnya menaklukkanku sudah. Aku pun mulai mengeja cinta, menelusuri tiap hurufnya, merangkai jadi sebuah kata, yang kini terpatri di dalam jiwa.

Terima kasih telah mengajariku cinta...

Wednesday, June 3, 2009

Tujuh Bulan Sudah




BB: 58 kg (dah naik 8 kg dari sebelum hamil :D)
TD: 120/80 (alhamdulillah, dah naik jg)


Sejauh ini, kehamilanku gak ada masalah. Mual-mual sudah menghilang ketika masuk usia kehamilan 4 bulan. Berat badan mulai naik sejak itu. Tapi kemarin pas usia kandungan 6 bln, hasil USG menyatakan adanya plasenta marginalis. Duh, apa itu?
(penampakanku di usia kehamilan 7 bln. Ndut yaaa?)Maklum, karena kehamilan pertama, aku gak paham sama sekali tentang ini. Kalau kata dokter tempat aku kontrol, plasentaku letaknya agak di bawah, tapi tidak menutup jalan rahim. Selain itu, aku juga gak mengalami pendarahan yang katanya biasa mengiringi kasus plasenta previa ini.
Kata beliau nanti dilihat lagi ketika usia kandungan 8 bln, apakah letaknya masih tetap atau sudah mulai naik. Dianjurkan untuk banyak-banyak sujud, atau mengepel dengan cara melantai. Ada kekhawatiran pastinya, tapi sejauh ini aku berpikir positif terus insyaAllah janinku gak apa-apa. Amin....


(foto diambil waktu jadi panitia walimah teman, Sabtu, 31 Mei 2009)

Waktu pun terus bergulir, dan tanpa terasa sekarang usia kandungan sudah 7 bulan. Subhanallah. Pekan ini mau kontrol lagi, tapi ke bidan yang biasa aku datangi. Kalau waktu minggu ke 23-an sempat ngalami hampir mau pingsan waktu berdiri dan jalan terlampau lama pas belanja, alhamdulillah kemarin pas belanja kebutuhan baby aku seger2 aja. Padahal sebelumnya aku jadi panitia pernikahan temenku dulu lho. Mungkin karena semangat saking senengnya lihat baju dan perlengkapan bayi yang lucu-lucu, jadi hilang deh capeknya. Bener juga kata Ndahe, jangan sampe kalap belanjanya. Pas aku dikasih bon sama si teteh pelayan toko, agak kaget juga. Trus nyodorin ke buya yang tampangnya gak sekaget aku. hehehe... aku dah berusaha menawar sebisaku lho, buya....

Begitulah kabar bumil yang satu ini. Tujuh bulan, sudah....

Wednesday, May 20, 2009

dari infobunda.com

Hai retno wulan,

Seiring dengan semakin membesarnya perut bunda mungkin bunda mulai merasakan sakit pada bagian punggung. Sakit ini bisa berupa pegal-pegal. Hal ini dikarenakan dengan membesarnya perut bunda maka secara refleksi menyebabkan pundak bunda tertarik kearah belakang untuk menahan beban depan tubuh bunda dan bertumpu pada bagian belakang tubuh bunda.

Untuk mengurangi keluhan sakit pada bagian punggung maka disarankan untuk mengurangi penggunaan sepatu dengan hak tinggi, tetap memperhatikan peningkatan berat badan sesuai standar, karena kalau berat badan bertambah secara berlebihan maka akan menyebabkan semakin berat beban punggung bunda, memperhatikan posisi tubuh yang baik dengan menegakkan tubuh bunda selain itu bunda juga harus memperhatikan sikap apabila bunda akan mengambil barang hindari membungkuk. Hindari berdiri, duduk dan berjalan dengan waktu yang lama

Bayi bunda sudah bisa mengedipkan matanya di minggu ke 26 ini selain itu retina matanya telah mulai terbentuk. Aktifitas otaknya yang berkaitan dengan pendengarannya dan pengelihatannya sudah berfungsi, mungkin bunda dapat memulai memperdengarkan lagu yang ringan dan mencoba untuk memberi cahaya lebih disekitar perut, mungkin bunda akan merasakan anggukan kepala si kecil.

Minggu ke 26 kehamilan berat badan bayi bunda sudah mencapai 750-780 gram, sedangkan tingginya 35-38 cm.

Semoga anda memdapatkan pelayanan yang bermanfaat dan akan merekomendasikan website ini ke teman-teman anda!

Salam,

infobunda

ternyata, bukan hanya karena tensiku yang rendah, tp kehamilan makin meningkat menyebabkan tekanan darah juga ikutan merosot. pantas saja belakangan makin sering pening2. semoga setelah vitamin dari dokter habis, tensiku normal, trus gak perlu cek HB. Amin....

Wednesday, May 13, 2009

Cuma Sekadar Kuli Kata

Ya, ya, ya... enggak pernah ada tuh idiom "kuli kata". Kalo kuli tinta banyak yang tahulah. Istilah kuli kata cuma bikinanku sendiri yang mengasosiasikan profesiku dengan kata yang berbeda. Kuli kata dipadankan dengan editor yang kerjaannya angkut-angkut kata dari naskah, baik mengeluarkan kata atau memasukkannya ke dalam kata. Pekerjaan yang tidak berat bukan? Yah, dibanding kuli pasar yang mengangkut barang dagangan yang berkarung-karung dan pasti berat, atau kuli bangunan yang mengangkut bahan bangunan dan membangun rumah, tentu enteng sekali mengangkut kata atau membuat sebuah naskah.

Mungkin secara fisik, tidak dibutuhkan seorang yang bertubuh kekar dengan otot kawat tulang besi untuk menjadi seorang kuli kata. Namun, menurut saya, pekerjaan ini sungguh menguras energi, terutama otak. Yah... itu mah semua pekerjaan juga, kan?

Mestinya semuanya mudah kalau dilakukan dengan hati, maksudnya senang hati. Tapi, si kuli kata yang satu ini lagi "riweh". Bulan ini mesti ngerjain 8 buku cetak ulang, 2 buku cetak baru, sama 1 naskah tulis baru. Mumet bin pusing. Jadi pengen ketemu liburan.

Ini kan mudah, cuma sekadar kuli kata, kok.

Monday, April 27, 2009

Teruntuk Dirimu yang Selalu Mendampingiku

Aku sadar bahwa cintaku mungkin tak sebanding dengan cintamu padaku. Bahkan aku masih sempat merasa asing, terkaget juga karena sudah harus merajut kasih, bukan hanya padamu, keluargamu, tetapi bahkan terhadap jundimu. Sempat sedih dan tak percaya, tapi harus kuterima sebagai anugerah terindah dari-Nya.

Aku sadar betul menerimamu sebagai pendamping hidup bukanlah keputusan biasa. Harus siap menerima apa pun yang ada pada dirimu, baik-burukmu, lebih dan kurangmu, dan semua tentangmu. Dan aku tak mau menyesali itu di kemudian hari.

Sungguh perjalanan kita tak mudah, tapi aku merasa Allah menumpahkan berkah kepada kita. Kita diuji lagi, lagi, dan lagi. Namun, rasanya jalan-Nya selalu menuntun kita kepada yang mudah. Tidak sekali kita diuji, bahkan kemarin engkau sempat sendu. Engkau sosok yang tak pernah terlihat galau tiba-tiba membisu. Seperti kehilangan bara semangat yang tak pernah kulihat redup selama ini.

Khawatir? Tentu, apa lagi setelah kauceritakan kisahmu. Rabbanaa..., hanya kepada-Mu aku mengadu. Aku berpasrah kepada-Mu. Lagi-lagi, rasioku mengatakan ini pasti akan sulit. Aku mungkin masih bisa menanggung ini, tapi sungguh banyak hal yang akan aku korbankan. Rabbanaa..., tolonglah hamba-Mu. Malu aku meminta, tapi aku hanya bisa memohon pada-Nya.

Di mana optimisku yang dulu? Di mana keyakinanku yang keras bagai batu? Aku meraung, meluapkan amarahku pada diriku, menginginkan kembalinya semangatku yang tiba-tiba menguap seiring waktu. Aku yakin aku bisa!!! Kupompa lagi ruhku, agar terpacu dan tak turut dalam sedih dan pilu.

Akhirnya, semua terasa indah. Ujian itu hal biasa. Mungkin aku tak akan temui indahnya sabar, mungkin aku tak akan rasakan nikmatnya ujian, mungkin aku tak akan pernah belajar kekurangan, dan mungkin aku akan terus kehilangan semangat dan optimis yang semakin meregang.

Rabbanaa, aku tahu semua ini dari-Mu. Kutitipkan apa yang Engkau amanahkan kepadaku kepada-Mu. Bimbinglah kami untuk selalu berada di jalan-Mu.

Teruntuk dirimu yang selalu mendampingiku, aku mendukungmu selalu. Engkau nahkodaku, aku kan di sini menyertaimu. Kita arungi biduk ini, meski badai dan ombak menerjang tanpa henti.