Monday, April 27, 2009

Teruntuk Dirimu yang Selalu Mendampingiku

Aku sadar bahwa cintaku mungkin tak sebanding dengan cintamu padaku. Bahkan aku masih sempat merasa asing, terkaget juga karena sudah harus merajut kasih, bukan hanya padamu, keluargamu, tetapi bahkan terhadap jundimu. Sempat sedih dan tak percaya, tapi harus kuterima sebagai anugerah terindah dari-Nya.

Aku sadar betul menerimamu sebagai pendamping hidup bukanlah keputusan biasa. Harus siap menerima apa pun yang ada pada dirimu, baik-burukmu, lebih dan kurangmu, dan semua tentangmu. Dan aku tak mau menyesali itu di kemudian hari.

Sungguh perjalanan kita tak mudah, tapi aku merasa Allah menumpahkan berkah kepada kita. Kita diuji lagi, lagi, dan lagi. Namun, rasanya jalan-Nya selalu menuntun kita kepada yang mudah. Tidak sekali kita diuji, bahkan kemarin engkau sempat sendu. Engkau sosok yang tak pernah terlihat galau tiba-tiba membisu. Seperti kehilangan bara semangat yang tak pernah kulihat redup selama ini.

Khawatir? Tentu, apa lagi setelah kauceritakan kisahmu. Rabbanaa..., hanya kepada-Mu aku mengadu. Aku berpasrah kepada-Mu. Lagi-lagi, rasioku mengatakan ini pasti akan sulit. Aku mungkin masih bisa menanggung ini, tapi sungguh banyak hal yang akan aku korbankan. Rabbanaa..., tolonglah hamba-Mu. Malu aku meminta, tapi aku hanya bisa memohon pada-Nya.

Di mana optimisku yang dulu? Di mana keyakinanku yang keras bagai batu? Aku meraung, meluapkan amarahku pada diriku, menginginkan kembalinya semangatku yang tiba-tiba menguap seiring waktu. Aku yakin aku bisa!!! Kupompa lagi ruhku, agar terpacu dan tak turut dalam sedih dan pilu.

Akhirnya, semua terasa indah. Ujian itu hal biasa. Mungkin aku tak akan temui indahnya sabar, mungkin aku tak akan rasakan nikmatnya ujian, mungkin aku tak akan pernah belajar kekurangan, dan mungkin aku akan terus kehilangan semangat dan optimis yang semakin meregang.

Rabbanaa, aku tahu semua ini dari-Mu. Kutitipkan apa yang Engkau amanahkan kepadaku kepada-Mu. Bimbinglah kami untuk selalu berada di jalan-Mu.

Teruntuk dirimu yang selalu mendampingiku, aku mendukungmu selalu. Engkau nahkodaku, aku kan di sini menyertaimu. Kita arungi biduk ini, meski badai dan ombak menerjang tanpa henti.

Wednesday, April 22, 2009

Jangan Kejadian Lagi, Deh!

Selama enam bulanan menjadi seorang istri, aku kayaknya jarang banget deh masak khusus untuk suami. Masih bisa diitung pake jari-jariku dan jari-jari suami. Gimana, ya? Bukan enggak mau, tapi karena aku tinggal sama mertua yang jago banget masak, jadilah aku cuma bantu Mamah (mertuaku) masak di dapur. Itu artinya semua menu, ingredient, dan cara masaknya menurut instruksi Mamah, bukan kreasi aku. Masak sendiri yang bener-bener gak dikomando ya pas Mamah lagi ke rumah cucunya di Bogor sana atau pas aku pulang kampung, alias rumah ortuku.

Aslinya, aku emang gak jago2 amat dalam hal masak-memasak, tapi dibilang alergi juga enggak. Aku paling suka bikin kue, karena di rumah ortu dulu biasanya ya diamanatin bikin kue-kue aja. Nah, karena Mamah juga pinter banget bikin kue, diturunkanlah ilmu-ilmunya (baru beberapa resep aja, sih) kepadaku. Seneng bangetlah pastinya.

Nah, Jumat malam, sepulang dari kantor, suami ngajakin pulang ke kampung. Aiiih..., senengnya! Tau aja aku lagi kangen ortu and Kamil, keponakanku. Meluncurlah malam itu kita ke Kampung Rambutan. Aku minta dia untuk nemenin belanja di Superindo. Pengennya sih ke Pasar Rebo (pasar tradisional), tapi dah malam gitu ya udah pada tutup deh warung2nya.

Aku belanja bulanan and beli beberapa bahan yang aku siapin sengaja untuk masak spesial for my hubby. Eh, untuk ortu sama penghuni rumah ortu juga sih. ^_^ Kepikiran mau bikin soto lamongan, tumis wortel-buncis-soun, perkedel, tempe goreng (yg satu ini mesti gak boleh absen sekarang2 ini), trus kue muffin sama martabak tahu. Bahan-bahan yang sekiranya masih bisa dibeli di tukang sayur dan yang pasti harganya jauh lebih murah daripada di swalayan itu, jelas gak aku beli. Sejak berumah tangga, "naluri keuangan emak-emak" makin tajam :D

Dalam waktu kurang dari 15 menit, acara belanja selesai. Teledornya aku, aku kelupaan ambil hadiah piring sama mangkok dari deterjen sama pengharum pakaian yg aku beli. Haduh..., kan lumayan yah buat nyicil perabotan ntar kalo tinggal mandiri (gak numpang lagi). Suami cuma senyum-senyum aja, udah biasa kali sama istrinya yg pelupa.

Pas lewatin jalan baru, kita mampir lagi ke tempat cetak foto. Mau cetak foto pernikahan. What??? Hamil udah lima bulanan tapi foto pernikahan belum juga dicetak? Sungguh terlaluh! Yah, berhubung gak pake kamera profesional, makanya di-retouch dulu deh tuh foto2. Karena editing sendiri, trus ngerjainnya di waktu luang, baru kelar belakangan ini. Ampuun. Biarin, deh. Lebih baik telat.

Esok paginya, pas ponakanku belum bangun, aku bikin muffin. Dengan harapan pas dia bangun, tuh kue dah jadi. Alhamdulillah..., sukses euy. Syenengnyah!!! Si Kamil suka, abis 2 cup pas nyicipin pertama. Yang bikin tambah seneng, suami jg suka. Uhuy..., makin pede deh untuk masak2 lagi. Setelah beberes perabotan bikin muffin selesai, aku lanjut masak yang lain. Pertama ngulek-ngulek bumbu2. Bumbu soto duluan, trus bumbu tumisan. Abis itu ngerebus ayam biar keluar kaldunya. Sambil nunggu rebusan ayam, mulai ngolah martabak tahu. Pokoknya ngerjainnya pake sistem "tangan gurita". Ngerjain ini sambil ngerjain itu.

Masak pagi itu dah hampir kelar, tinggal ronde terakhir goreng tempe. Tiba-tiba, suami muncul di dapur.
"Nda, ini fotonya dah Buya ambil," gitu katanya.
Aku penasaranlah pengen liat, tapi nanggung banget nih. Tempe gorengnya belum garing. Aku sempet ngebalik gorengannya. Nah, pas waktu itu, ibu ke dapur.
"Bu, fotonya dah jadi," aku ngasih kabar itu ke ibu. Karena kupikir ibu masih mau di dapur, aku tinggalah tuh tempe goreng dengan asumsi paling ntar ibu yang mengangkat gorengan tempe itu.

Di ruang tengah, aku asyik melihat-lihat dan merapikan foto2 ke album. Lagi khusyuk masukin foto-foto ke album, adikku komentar, "Mbak, kayaknya ada bau-bau gak enak deh."
"Bau apaan, sih? Aku gak nyium, tuh," baru aja aku jawab gitu, "Ian..., tempemu gosong, tuh...!" suara ibuku berseru. Aku langsung ngibrit ke dapur. Astaghfirullah, tuh tempe ampe item kayak areng.

"Lho, kirain masaknya dah selesai," suami ikutan komentar.
"Aku lupa kalo masih ninggalin tempe goreng," jawabku dengan tampang nelongso.
"Bunda, bunda..., masak tempe aja kok gosong."
Argh... !@#$%^&*

Duh, jangan sampe kejadian lagi, deh. Padahal masakan lainnya sukses, tuh. cuma sayang aja tuh 5 potong tempe goreng jadi hitam legam. :(

Monday, April 13, 2009

Allah Yang Mahatahu


Ada tiga hal yang sangat misterius di mata manusia, yaitu nasib, jodoh dan maut. Karena kemisteriusannya, terkadang manusia ”terburu-buru” ingin tahu. Ketika ada satu tahapan yang ia lalu yang berhubungan dengan tiga hal itu, ia pun terkadang tak sabar untuk segera memberitahu khalayak ramai. Padahal, tak seorang pun mengetahui tentang ketiganya selain Allah SWT.

Manusia memang diciptakan dengan karakter ”terburu-buru”, sebagaimana secara tegas dinyatakan oleh Allah SWT sendiri dalam Al-Qur`an, "Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa." (QS Al-Anbiya’ [21]: 37). Dampaknya, mayoritas manusia senantiasa ingin cepat selesai, maunya instan dan segera tuntas.

Salahkah? Ketergesaan itu membuat manusia lalai, tidak tuntas dalam berpikir, sehingga tindakan yang diambil pun tidak memuaskan. Yah, kita tahu bahwa toh tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi berusaha sebaik mungkin dengan tidak terburu-buru memutuskan atau melakukan sesuatu adalah bentuk ikhtiar untuk menjadi hamba yang itqan, profesional, tidak hanya dalam bekerja, namun juga dalam beribadah maupun berhubungan dengan sesama.

Saat masih sekolah, pada tingkat sekolah dasar dan menengah, manusia sering kali ingin cepat selesai, supaya bisa segera kuliah, dan kalau sudah kuliah, ia juga ingin cepat selesai agar segera kerja atau segera menikah, dan begitu seterusnya.

Di lain daerah, sebagian yang lain terburu-buru ingin kaya dengan cepat, akibatnya ia mencuri, meminta-minta, merampok, menjual diri atau menjarah harta atau lembaga lain yang bukan menjadi haknya. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Demikian juga dengan dunia percintaan atau perjodohan. Tak jarang bahwa takdir perjodohan tersebut adanya di angka 7 (misalnya), tapi sudah dikejar semenjak angka 2, akibatnya proses yang berjalan dari angka 5 menuju angka 7 akan terasa lama sekali, inilah yang terkadang dianggap tak kunjung datang. Atau ternyata proses itu baru di angka 3, tapi diperlakukan seperti sudah di angka 1, serasa pasti benar dan tentu tak ada halangan lagi untuk mencapai angka itu, sehingga semua orang pun tahu bahwa mereka sudah pasti dan tentu bersatu, tapi lupa Allah-lah Sang Penentu. Allah Yang Mahatahu takdirmu.

Oleh karena itu, biarkanlah ia indah pada saatnya, duhai saudaraku. Simpanlah ia dalam hatimu jika proses itu belumlah tentu. Karena tidak ada yang lebih tahu siapa jodohmu selain Allah SWT, Yang Mahatahu.

*teruntuk saudara-saudariku yang menanti sebuah episode baru*

Monday, March 2, 2009

.... sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan....
(QS Al-Hajj [22]:5)
subhanallah.... tak terasa usia kandunganku minggu ini insyaAllah masuk minggu ke-16. kalau merujuk dalil-dalil yg ada, usia kandungan 4 bulan adalah usia si janin ditiupkan ruh oleh-Nya. sungguh, tak pernah saya membayangkan akhirnya saya mengandung, merasakan haru birunya jelang jadi seorang ibu, wanita yang paling bahagia.

setelah mengalami payahnya trimester awal mengandung, yg kadang2 masih timbul jg di jelang trimester dua ini, saya makin mengetahui begitu beratnya perjuangan ibu. duh, ibu. saya jadi malu dan marah pada diri saya sendiri karena begitu sering mengecewakan ibu dan begitu sering membuatmu sedih. ini baru awal, lho. bagaimana perjuangan nantinya, Allahu a'lam, hanya Allah Yang Mahatahu.

jelang minggu ke-16, saya makin berdebar2, banyak doa saya rapalkan untukmu jundiku sayang. nak, jadi jundi yg shalih/shalihah, ya. sehat selalu ya, nak. kelak jadilah hamba Allah yang taat, cinta dan sayang kedua orang tua, dan jadi pemuda dambaan umat. maafkan jika kelak buya dan bunda tak mampu menjadi orang tua yang layak engkau banggakan, yg tidak mampu memberikan yg terbaik utkmu, yg sering lupa menjadi teladan yg baik. nak, buya bunda sayang padamu.

Tuesday, January 13, 2009

ketika emesis melanda

dulu, zaman masih jomblo, aku gak pernah membayangkan bagaimana kelak kehidupan setelah berumah tangga. pokoknya jalani saja. ikuti rule-nya. manut aja gitu sama imamnya. mudah, kan? tapi nyatanya..., tak semudah yang pernah kuduga.

seminggu lalu aku lemes banget. tepatnya hari senin 5 Januari, aku ngerasa badanku gak enak banget. Ehm... kecapean plus masuk angin neh kayaknya. di kantor bener2 gak konsentrasi kerja. bolak-balik kamar mandi, muntah2 and BAB terus. karena saking lemesnya, ngacir ke mushalla utk tidur. ternyata tak senyaman mushalla kantor lama yg khusus utk cewek, daku tak bisa istirahat sama sekali. masih banyak orang yg lalu lalang utk shalat ashar, padahal waktu sudah menunjukkan hampir setengah enam.

badan mulai meriang. kularikan diri ke kamar mandi. BAK trus langsung wudhu. ketika adzan maghrib bergema, segera ke mushalla. aku gak shalat jamaah krn belum ada yg ke mushalla. selesai shalat, langsung keluar kantor. nyusul suami di mushalla depan. suddenly, I miss my pillow.

"Yuk, cepet pulang!" ajakku sambil berjongkok karena gak kuat lagi berdiri.

sampai di rumah, benar2 gak bisa menahan diri utk langsung rebahan di kasur. setelah mengganti pakaian seadanya, aku ngelimpruk, menggigil, tapi badan demam. suami langsung nyelimutin berlapis2 pas nyadar kalo istrinya meriang. huhuhu... jadi terharu.

tengah malam bangun karena ingat belum shalat isya. suami nyuruh makan. huaah.... mana kepikiran utk makan. gak mauuu.... aku mau tidur. begitulah malam itu kulalui dengan menggigil, meriang, demam, pening, dan bolak-balik bangun.

esok paginya ternyata gak lebih baik. badan sakit semua. ternyata keluarlah bintik2 merah di sekujur badan. ternyata oh ternyata.... daku kena campak. malamnya masih emoh ke dokter. paling besok sembuh, tp iseng jg pengen ke dokter, cuma ke dokter kandungan. what??? kok, dokter kandungan? aku coba testpeck, ternyata hasilnya 2 strip. makanya, kalopun ke dokter, aku mau mastiin ini hamil beneran atau bukan.

pas keesokan malam, tepatnya rabu malam, aku diantar suami ke klinik nf setelah sebelumnya mastiin kalo DSOG-nya perempuan. alhamdulillah, ternyata benar. waktu registrasi dapat nomor 7. nyampe sana jam 8 malam, padahal bukanya dari jam 7, tapi baru nomor 1 yg dipanggil. huaah.... masih lama dong ya.

nunggu 1 jam itu lama bgt kayaknya. kepala udah kayak melayang2, badan mulai meriang lagi, and suami gak di sisi, soale gak kebagian tempat duduk. kasiannya....

setelah jam 9 lewat, namaku baru dipanggil. akhirnya.... jelasin panjang lebar, kulitku dilihat dokter. perutku di-USG. Subhanallah! ternyata bener ada jundi di sana. pengen nangis jadinya. kok bundanya teledor gini. gak jaga diri sampe kena virus campak. maafkan bunda ya, nak....

diskusi sama dokternya. gimana dgn kondisiku yg kena virus. berbahayakah bagi jundi? alhamdulillah, antibodiku bisa menaggulangi katanya. aku dikasih obat antivirus yg-meski-segede-gaban-dan-pahit-tentunya harus aku minum dan habiskan. demi jundi yg Allah titipkan.

entahlah ini faktor obat or memang begitulah emesis (ngidam) hamil trimester pertama, aku kok ya muntah mulu bawaannya. tiap masuk makanan, huekss... makanan itu keluar. gak hanya itu, aku jadi kepikiran yg aneh2. aku emang paling sebel sama muntah. jangankan muntah org ngidam, muntah masuk angin aja aku sebel banget. bagiku, muntah itu membuat moodku jadi gak enak. males ngapa2in jadinya. aku jadi kangen masa2 jomblo. kalo aku masih single kan gak gini jadinya. astaghfirullah.... aneh bener ya aku.

fiyuh... beginilah ketika emesis melanda. aku yg udah sering aneh2 makin aneh. ya Allah, berilah aku ketegaran, ketabahan, dan keikhlasan menjalani ini semua. aku yakin, Engkau begitu sayang padaku.

Wednesday, December 24, 2008

Dua Satu Tanpa Orang Itu

Aku dan keluargaku bukan golongan yang menganggap istimewa tanggal kelahiran. Seumur-umur, keluargaku belum pernah membuat acara khusus tertentu dalam rangka menyambut milad anggota keluarga kami. Kalaupun ada, aku yang punya inisiatif membelikan makanan untuk keluarga atau teman-teman. Nraktir? em... kalau lagi ada uangnya aja, itu juga mesti ditodong paksa ama temen-temen :D

Bertepatan dengan angka dua satu bulan ini, aku sudah tidak di rumah keluarga intiku lagi. Kini aku sudah masuk keluarga baru. Surprise, karena keluarga baruku ini memberi kejutan di pagi hari tanggal dua satu itu. Mama mengucapkan doa seraya memelukku, sedangkan Papa memberikan restu dan mengulurkan tangannya agar aku dapat menyalami beliau. So sweet....

Lalu, bagaimana dengan orang itu? Orang yang pertama mengingatkan aku bahwa hari itu jatah hidupku telah berkurang satu adalah dia. Subuh itu, ada kejadian yang membuatku lupa kalau itu hari lahirku. Aku kaget dan agak aneh. Biasanya aku hanya menerima ucapan-ucapan itu via sms atau dunia maya, tidak pernah mendapati orang yang secara langsung di pagi buta memberi ucapan itu.

Ada rasa haru, uhuk... uhuk.... Tapi ternyata, hari itu gak seindah bayangan. Orang itu ada urusan di luar kota, menginap pula. Huhuhu... gak seru. Aku kan mau minta ditraktir :D Tapi mau bagaimana lagi, tugas itu lebih prioritas. Semoga Allah meridhai urusannya itu. Aku pun gak berlarut dalam sepi, karena mesti menjalani rutinitas akhir pekan yang sekarang lebih padat dari sebelumnya. SERUUU...

Jam 6 aku berangkat ke SOS Cibubur untuk senam pagi. Berangkat bareng kakak ipar naik blacknim dengan tetap aku sebagai ojekernya. Gak berubah2 jg ya statusku :D. Jam 8 balik ke rumah plus keujanan. kakak ipar gak mau neduh dulu soale mau balik ke rumahnya di Kalisuren, so kuyup sudah semua pakaianku krn telat ngeluarin jas hujan.

sampai di rumah, orang itu dah pergi. langsung aja aku nyuci2, bebersih, sarapan makanan yg dah disiapin mama, trus berangkat lagi ke tempat ngaji. ba'da zhuhur baru balik lagi ke rumah. bantuin mama masak trus ngejemur pakaian. abis itu boci, ngantuk booo... bangun2 jam 4 krn dah ada yg ngucap salam mau ngaji. wuaa..... lupa! aku mesti ngajar hari ini. buru2 bangun, mindik2 ke kamar mandi (bukan untuk mandi, cuma cuci muka n wudhu doang), trus shalat ashar krn aku kebablasan tidur sampai jam 4. huhuhu.... malu... yg datang dah pada wangi, tuan rumahnya masih smeelly :D

meski belum mandi, pede berat nemenin mereka ngaji sampai maghrib tiba. pas pengen shalat, kok aku gak betah ya sama gerahnya badanku. yasud, mandilah sore itu. rumah mulai sepi. mama papa rupanya tidur awal, kecapean abis nemenin cucunya (anak adik iparku). jadilah aku sendiri yg belum tidur. em... ngapain ya? oh ya, jemuran dah kering, gosok aja deh...

ajaib, aku yang biasanya gak betah gosok baju berlama2, gak bisa tahan kantuk di atas jam 9, kali itu bisa gosok baju sampai jam 10 lebih dan semua baju rapi kegosok semua. kayaknya, ini efek samping gak ada orang itu. jadi gak ada pengganggu, bisa fokus ngerjain ini itu. yuhuu.... besoknya berangkat pagi dgn santainya bareng si blacknim. alhamdulillah... dua satu tanpa orang itu? gak masalah tuh :p

Friday, November 14, 2008

Allah Itu Ar-Razzaaq


Bismillah, semoga pengalaman kecil ini bisa diambil hikmahnya.

Aku mungkin terlampau logis dan realistis. Segala hal diperhitungkan secara hitungan matematis sehingga yang namanya hal-hal berbau keajaiban jauh sekali dari pikiranku. Tapi kini aku benar-benar merasakan "keajaiban" itu. Aku lebih senang menyebutnya "keberkahan" dari-Nya. Segala puji bagi-Mu yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada kami, ya Allah....

Ketika memutuskan untuk mengambil keputusan untuk mengikuti sunnah hasanah itu, yang terpikir olehku tentu banyak sekali, salah satunya tentang materi include biaya walimah kami (aku dan orang itu tentu). Kondisi keuangan keluargaku sedang tidak memungkinkan untuk mensubsidi acaraku itu. Orang itu pun bukanlah orang berada yang mampu memikul semua biaya walimah. Sedangkan aku? Aku baru saja keluar dari pekerjaanku dan baru satu bulan menjadi karyawan baru. Nekat sekali mengambil keputusan menikah di saat itu. Status menikah itu "riskan" sekali di perusahaan baru. Tapi bismillah, aku tetap melangkah.

Akhirnya, hari itu pun tiba. Hari ketika perwalian telah berpindah dari bapak ke dia, orang yang kupercaya bisa menjadi imam bagiku. Sungguh, aku merasa tak percaya. Dengan dana yang sekadarnya, konsep acara yang sederhana, dan perencanaan yang serba singkat, aku merasakan banyak sekali keberkahan. Mulai dari bala bantuan saudara-saudara sedarah, seukhuwah, sampai "bantuan-bantuan dari tangan-tangan yang tak kami duga". Subhanallah walhamdulillah. Kami bergidik takjub akan segala nikmat-Mu, ya Allah.

Sore hari jelang hari H, kami mengadakan pengajian dengan anak yatim. Tak disangka, jumlah yang kami undang sebanyak 30 orang bertambah menjadi 33 orang. Subhanallah, yang kami siapkan bisa memenuhi jumlah yang datang, belum lagi beberapa jumlah yg kami titipkan utk yg tidak datang. Padahal jelas-jelas aku menghitung jumlah itu cuma 33. Subhanallah...

Malamnya, pengajian utk bapak-bapak pun digelar. Usai acara itu, ada seorang nenek datang ke depan rumah. Kebetulan aku ada di sana. Ia meminta makanan, segera kuambil besekan. Belakangan, aku baru sadar kalau nenek itu bukan warga setempat padahal dia bilang kalau dia lihat tetangganya dapat makanan dari kami. Allah..., aku bergidik mengenang itu.

Malam setelah hari H, aku dikejutkan dengan sebuah amplop yg bapak terima. Beliau lupa siapa orang yg memberinya karena ada beberapa org (kerabat dekat saja) yg menyerahkan amplop ke beliau. Di antara amplop yg beliau terima, hanya ada 2 amplop tak bernama, tp yg ini membuat kami hanya mampu bersyukur pada-Nya. Satu amplop tak bernama itu, apakah Malaikat yg mengirimnya? Ya Allah, kami hanya mampu bersyukur pada-Mu dan hanya mampu membalas kebaikan (siapa pun dia) dengan doa agar Engkau membalas kebaikannya dengan yang lebih baik lagi, baik di dunia maupun di akhirat sana.

Aku masih penasaran dan terus melacak selama hampir 2 minggu ini siapakah gerangan si malaikat tak bernama itu, namun tak jua kutemu jawabannya. Dan lagi, sepanjang pencarian itu, Allah masih memberi rezeki dari arah yang tak pernah kuduga. Maka nikmat mana lagi yang engkau dustakan. Aku jadi teringat kutipan ayat yang orang itu lampirkan dalam biodatanya ketika aku terima,

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS An-Nur [24]:32)

Rabbana, semoga kami senantiasa istiqamah dalam taat kepada-Mu, dalam mensykuri segala nikmat-mu, dan dalam menjaga diri kami agar tidak durhaka kepada-Mu. Amin.